Penggemar Matahari

Pagi tadi aku dibangunkan oleh sesuatu yang aku rindukan
Sesuatu yang terang benderang
Langsung menusuk mata
Terasa hangat masuk ke sukma
 Si matahari rupanya
Semalaman aku tunggu hadir mu
Hampir mati tubuh ini merindukan hangatnya
Keluar juga kau dari singgasana mu
Tetapi aku penasaran tentang semalam
Kemana perginya si matahari setelah usai sore tadi memberikan warna senja terbaik yang pernah aku liat sepanjang hidup ini?
Tertelan ia oleh malam?
Atau
Malukah ia muncul lantaran sang bulan juga muncul malam itu?
 
Malam itu sehabis si matahari yang lama-lama larut tenggelam dan menghitam pergi dengan sepenuhnya,
Aku duduk di pekarangan rumah ditemani malam yang begitu dingin sampai-sampai wedang jahe yang tadinya membakar bibir ku berubah menjadi air dingin
Aku melihat ke langit berkali-kali
Ya siapa tahu si matahari muncul malam itu
 
Setelah pagi tadi ia akhirnya muncul juga
Aku gembira, sangat gembira melihat si matahari menghangatkan hari ku lagi
Ku pandangi terus walau silau yang penting ia tidak pergi lagi
 
Sepanjang hari si matahari menemaniku
Lama-kelamaan ia merekah memerah
Aku rasa si matahari rupanya malu-malu
Namun ada yang aneh setelah si matahari memerah
Jangan.. jangan lagi..
Berubah lagi kau wahai matahari menjadi senja terbaikku? Tenggelam lagi oleh malam lalu aku sendiri lagi?
Baiklah, aku terima kau apa adanya wahai matahari
Dan aku.. aku akan menunggu lagi di pekarangan rumah ini sampai kau membangunkan ku lagi esok pagi

 

Postingan populer dari blog ini